Idul Fitri; Momentum Perbaikan Hablum Minallah & Hablum Minannas

 

Oleh : Amad Sutami, S.Pd.I
(Guru PAI SDN. 01 Sriwijaya Kec. Umpu Semenguk _Way Kanan)

Bismillahirrahmanirrahim, Hariantempo.com-
Pada suatu hari Rasulullah SAW selesai melaksanakan sholat Idul Fitri, tiba-tiba beliau mengangkat kedua tangannya kemudian mengucapkan kalimat Aamiin, Aamiin, Aamiin (sebanyak 3x). Para sahabat tercengang lalu bertanya: “Ya Rosulullah, kami tidak mendengar suara angin dan tidak melihat orang yang berdoa, kenapa tuan mengucapkan Aamiin, Aamiin, Aamiin?”
Rasulullah SAW menjawab: “Wahai sahabatku, baru saja aku melihat malaikat Jibril berdoa. Maukah aku beritahukan kepadamu tentang doa yang di sampaikan oleh malaikat Jibril tadi?” Sahabat menjawab: “Mau, Ya Rosululloh.”

Kemudian Rosulullah SAW menjelaskan: adapun doa yang dibaca oleh malaikat Jibril tadi adalah:
Yang pertama: YA ALLAH, HARI INI ENGKAU MENGAMPUNI DOSA-DOSA HAMBAMU DAN ENGKAU TERIMA SEMUA AMAL IBADAHNYA, NAMUN AKU MOHON YA ALLAH, JANGAN ENGKAU TERIMA PAHALA SHOLAT, ZAKAT, PUASA, INFAQ DAN SHODAQOHNYA SEORANG ISTRI YANG DURHAKA TERHADAP SUAMINYA. Aku menjawab: AAMIIN.
Yang kedua: YA ALLAH, JANGAN ENGKAU TERIMA PAHALA SHOLAT, ZAKAT, PUASA, INFAQ DAN SHODAQOHNYA SEORANG ANAK YANG DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUANYA. Aku menjawab: AAMIIN.

Yang ketiga: YA ALLAH, JANGAN ENGKAU AMPUNI DOSA-DOSA HAMBAMU DAN ENGKAU TERIMA SEMUA AMAL IBADAHNYA SEORANG TETANGGA YANG MENYAKITI TETANGGA LAINNYA. Aku menjawab: AAMIIN.

Mengutip dari kisah diatas, maka bila kita perhatikan ketiga permasalahan ini sering kali terjadi dalam kehidupan kita sehai-hari. Ada 3 golongan/perbuatan yang dapat menyebabkan pahala ibadah kita terhalang bahkan tidak diterima oleh Allah SWT yaitu :

Golongan yang pertama : seorang istri yang berbuat dosa terhadap suaminya.
Pada suatu hari Sayyidina Ali r.a dan Fathimah menjumpai Rasulullah SAW, dilihatnya beliau sedang menangis tersedu-sedu, lalu Sayyidina Ali r.a bertanya: “Wahai Rasulullah, ada apa gerangan sehingga engkau menangis?” Rasulullah SAW menjawab: “wahai Ali pada saat aku di Isra’ Mi’raj-kan aku melihat betapa banyak wanita-wanita yang disiksa dengan berbagai siksaan yang amat berat, kini aku teringat keadaan mereka-mereka itu lalu aku menangis.”

Aku melihat seorang wanita yang digunting lidahnya, sedangkan tenggorokannya di tuangkan air yang mendidih. Aku melihat seorang wanita yang digantung dengan kedua kakinya di ikat bersama kedua tangannya sampai ke ubun-ubunnya. Aku melihat wanita yang tubuhnya dipotong-potong dengan gunting dari api neraka.
Mendengar kisah ini maka bangkitlah Fathimah, lalu bertanya: “Wahai ayahku perbuatan-perbuatan apakah yang dilakukan wanita-wanita itu sehingga mereka menerima siksaan yang amat berat? Apakah mereka tidak melaksanakan sholat, zakat, dan puasa ?” RAsulullah SAW menjawab: “Mereka sholat,mereka juga berpuasa, dan mereka juga membayar zakat, namun kebanyakan mereka-mereka itu durhaka terhadap suaminya.”
Beliau menjelaskan: “Wahai Fathimah, adapun wanita yang digunting lidahnya mereka itu adalah wanita-wanita yang sering menyakiti hati suaminya dengan lidahnya.”
Adapun wanita yang digantung dengan kedua kakinya dia adalah wanita-wanita yang sering keluar dari rumah tanpa izin dengan suaminya. Rasulullah SAW bersabda :

اَيُّمَا اَمْرَاَةٍ خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِ زَوْجَهَا بِغَيْرِ اِذْنِهِ لَعَنَهَا كُلُّ شَيْءٍ طَلَعَةَ الشَمْشَ وَالْقَمَرَ حَتَّى تَرْجِعَ اِلَى بَيْتِ زَوْجِهَا .
Artinya : wanita manapun yang keluar dari rumah suaminya tanpa izin dari suaminya maka dia dilaknat oleh segala sesuatu yang disinari oleh matahari dan bulan sampai dia kembali ke rumah suaminya.

Adapun wanita-wanita yang dipotong-potong tubuhnya dengan gunting dari api neraka, mereka itu adalah wanita-wanita yang sering mempertontonkan anggota tubuhnya kepada laki-laki lain, yang semestinya harus ditutup dengan busana muslimah ataupun memakai jilbab yang tidak boleh diperlihatkan anggota tubuhnya kecuali kepada suaminya.

Oleh karena itu, melalui momentum hari yang Fitri ini hendaknya para wanita kembali kepada fitrah kewanitaannya, menjadi wanita-wanita yang sholehah, berpenampilan dengan busana sopan dan mampu menyenangkan hati jika dipandang oleh suaminya, taat kepada perintah suaminya dan sanggup memelihara kehormatannya, baik di hadapan sang suaminya, terlebih-lebih jika suaminya tidak bersamanya. Istri yang seperti inilah, yang dijanjikan Allah SWT akan diampuni segala dosa-dosanya dan diterima semua amal ibadahnya dan kelak akan masuk surga melalui pintu ia suka.
Sebagaiman hadits Rosululloh SAW:

اَلْمَرْاَةُ صَلَّةْ خَمْسَهَا وَصَامَنْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَاَطَاعَتْ زَوْجَهَا تَدْخُلُ مِنْ اَيِّ بَابٍ شَأَتْ مِنْ اَبْوَبِ الْجَنَّةِ (اَبُو نَعِمْ)
Artinya : apabila seorang wanita melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya dan taat terdadap suaminya, maka dipersilahkan masuk ke dalam surga lewat pintu mana yang ia suka. (HR. Abu Na’im).

Golongan kedua : seorang anak yang durhaka kepada orangtuanya.
Bila kita perhatikan, sekarang ini betapa banyak kita jumpai anak-anak yang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya, banyak anak yang durhaka terhadap orangtua, membentak atau menyakiti hati kepada orangtuanya, mereka beranggapan seolah-olah semua yang didapatkan adalah dari hasil usahanya sendiri. Dia lupa dan tidak menyadari, dari mana asalnya, siapa yang melahirkannya, yang membesarkannya, yang merawatnya tatkala masih kecil, bahkan yang mencukupi kebutuhan hidup dan sekolahnya.
Mereka lupa akan jasa-jasa orang tuanya dan tidak mau membalas budi baiknya. Padahal ketika itu, demi anaknya orangtua rela tidak tidur semalaman demi menjaga bayinya, orangtua rela bekerja keras (kepanasan dan kehujanan) demi mencukupi kebutuhan hidup anak-anaknya. Perjuangan dan pengorbanan orangtua tentu tidak akan terbalas sampai kapanpun oleh kita sebagai anaknya.
Untuk itu, sudah sepatutnya di hari raya Idul Fitri ini bila orangtua kita masih hidup kita selalu mendoakan, menjenguk dan menyapa dengan kata-kata yang lembut, ataupun memberi bingkisan hanya sekedar unutk membuat orangtua kita senang dan tersenyum bahagia. Bagi orangtua kita yang sudah meninggal, sempatkan waktu untuk ziarah kemakam orangtua kita untuk mendoakannya. Sebab hanya dengan ridha kedua orangtua itulah kita akan memperoleh keberkahan dan kebahagiaan hidup.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
رِضَا اللهِ فِى رِضَا الْوَلِدَيْنِ وَسُحْطُا اللهِ فِى سُحْطِا الْوَلِدَيْنِ
Artinya : Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murkanya Allah tergantung murka orang tua. (HR. Thabrani)

Golongan yang ketiga, tetangga yang menyakiti tetangga lainnya.

Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan rumah kita. Tetangga itulah orang yang pertama mengetahui suka-duka keluarga kita, bila musibah datang menimpa maka tetanggalah yang paling pertama datang membantu. Meskipun kita memiliki banyak saudara tetapi tempat tinggalnya jauh, maka ketika suasana darurat terjadi tetangga-lah yang pertama datang membantu dan memberi pertolongan.
Untuk kita pantaslah Rasullullah SAW mengigatkan umatnya tentang etika menjaga hubungan baik dengan tetangga, diantara terdapat hadiits Nabi yang artinya :
“Dari Abu Syuraih. r.a bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Demi Allah,seseorang tidak beriman(diulang 3x)”, ada yang bertanya: “Siapa itu ya Rasulullah?” Jawab Nabi: “yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguanya.” ( HR. Bukhari)

Dampak virus Covid-19 saat ini sangat terasa bagi seluruh masyarakat. Banyak saudara kita ataupun tetangga kita yang mengalami kesulitan dan keterbatasan karena kehilangan pekerjaan atau penghasilan yang menurun ditengah tuntutan kebutuhan hidup. Oleh karena itu sebagai sesama saudara, sebagai tetangga hendaklah kita harus saling membantu sesuai dengan kemampuan kita. Yang kaya membantu yang miskin, yang miskin menjaga yang kaya, sehingga keduanya saling membantu.

Apabila kedua hal itu dapat berjalan dengan baik maka ketentraman, ketertiban dan keamanan masyarakat akan terwujud.
Rasulullah SAW dalam sabdanya mengingatkan :

مَااَمَنَ رَجُلٌ بَاتَ شَعْبَانَ, وَجَارُهُ جَئِعٌ اِلَى جَنِبِهِ وَهُوَ يَعْلَمْ Artinya : tidaklah beriman seseorang dengan baik, manakala dirinya tidur lelap semalaman karena kekenyangan, sementara tetangganya tidak bisa tidur semalaman karena kelaparan, sedangkan mereka tahu keadaan tetangganya itu.

Dari penjelasan diatas, hendaknya kita semua selalu mawas diri dan hati – hati. Jangan sampai nilai – nilai pahala ibadah kita selama bulan suci Ramadhan rusak dan tidak di terima oleh Allah SWT, lantaran terganjal oleh perbuatan – perbuatan buruk kita sendiri. Melalui momentum hari raya Idul Fithri, juga sepatutnya kita pergunakan untuk memperbaiki hubungan baik antara suami-stri, antara anak dan orangtua, maupun tetangga satu dengan tetangga lainya. Saling tolong-menolong, saling maaf-memaafkan, dan saling berbagi ditengah kesulitan dampak virus Covid-19.

SEBESAR APAPUN KESALAHAN ORANG LAIN KEPADA KITA, LUPAKAN SEGERA AGAR TIDAK TIMBUL DENDAM DI HATI KITA. DAN SEKECIL APAPUN KEBAIKAN ORANG LAIN KEPADA KITA, INGATLAH SEPANJANG MASA AGAR KITA TIMBUL KEINGINAN UNTUK MEMBALAS KEBAIKANNYA.

Wallahu a’lam bish-shabab

Laporan; Yus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.