Oleh; Eko Prasetyo

Hariantempo.com-Kita tentu telah bersepakat bahwa manusia adalah salah satu dari sekian mahluk hidup di muka bumi ini yang terus tumbuh berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan. Berbeda dengan hewan, manusia diberi kelebihan lain yang tidak hanya memikirkan makan minum dan perkara perut ke bawah. Manusia diberi akal pikiran yang mesti digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebagai alat keberlangsungan hidup. Dengan ilmu, maka akan mempermudah sesuatu yang rumit. Dengan ilmu, maka akan membuka tabir ambiguitas. Dengan ilmu, maka akan memperkokoh penciptaan manusia sebagai mahluk yang sempurna.

Begitu pentingnya kedudukan ilmu sehingga kita bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Ilmu yang diperoleh dari berbagai bahan informasi menjadikannya abadi selama diwariskan dalam bentuk buku. Iqra’ misalnya, adalah ayat Al Qur’an yang pertama kali diturunkan dalam surat Al Alaq, memiliki banyak sekali makna yang berlaku universal. Al Qur’an itu sendiri merupakan sebuah buku kitab suci yang dihimpun dari sekumpulan ‘manuskrip’ wahyu yang diperoleh dalam beragam media mulai dari pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, hingga potongan tulang binatang.

Ilmu pengetahuan lainnya yang diperoleh melalui buku-buku bacaan, tidak menafikan tujuannya yakni sebagai pengantar ilmu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa ilmu sangat penting dipergunakan untuk kehidupan.

Kemudian bagaimana konteks ilmu dengan peradaban saat ini. Secara harfiah peradaban berasal dari kata “adab”, yang berarti ahlak kesopanan dan budi pekerti. Peradaban merupakan tahapan tertentu yang bercirikan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan hal-hal fisik. Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat yang beradab sudah pasti berilmu. Namun belum tentu yang berilmu itu memiliki adab. Banyak sekali contoh yang terlalu kasat dilihat oleh mata yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya bagaimana seorang politisi dengan gelar pendidikan tinggi sebagai bukti pencapaian ilmu, melakukan suap sana-sini demi ambisi duniawi. Misalnya lagi bagaimana seorang pejabat birokrasi dengan pangkat tinggi membuat kebijakan yang mendzolimi. Atau para pemimpin masyarakat yang dengan kekuasaannya justru malah memperkaya diri sendiri. Demikian adalah contoh-contoh manusia yang menggunakan ilmu tanpa adab.

Sejatinya melalui momen Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei ini, harus juga dimaknai dengan kesadaran humanisme. Bahwa membaca buku untuk mendapatkan ilmu, dengan tujuan mencapai peradaban manusia yang lebih baik. Peradaban manusia dari zaman purba menuju peradaban modern yang lebih maju dan beradab.
Selamat Hari Buku Nasional. Salam Literasi.

Laporan; Yus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.