Di Pesibar Sampah Masalah Klasik, DLH Kurang Sosialisasi, Justru Salahkan Masyarakat

HARIANTEMPO.COM-.Pesisir barat. Sampah adalah masalah besar, menjadi masalah nasional bahkan universal. UU nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah memiliki maksud bahwa pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.(24/03)

Pokok kebijakan dalam UU tersebut, mengatur tentang penyelenggaraan pengelolaan sampah secara terpadu dan komprehensif, pemenuhan hak dan kewajiban masyarakat, serta tugas dan wewenang Pemerintah dan pemerintahan daerah untuk melaksanakan pelayanan publik.

Hal ini diduga belum diterapkan ketat oleh pemerintah daerah pesisir barat propinsi Lampung.
Salah satunya seperti yang terjadi di Pekon Seray kecamatan pesisir tengah, tepatnya di lokasi jembatan way kunjekh perbatasan antara pemangku rantaw temu.

Pasalnya, bungkusan plastik merah diduga di buang oknum masyarakat dari berbagai tempat usaha yang ada di daerah ini.

Ini di jelaskan,Hiswandi (47) warga sekitar pembuangan sampah, tak jauh dari lokasi itu pula ia baru akan mendirikan usaha kecilnya.

Namun, merasa risih dengan tumpukan sampah yang biasa di buang oknum masyarakat pada sore menjelang Maghrib juga subuh menjelang pagi hari.

“Subuh pas mau terang itu, jadi masih sepi sama pas mau magrib, risih lah mas” terang dia

Mengapa demikian, disaat itulah oknum masyarakat menenteng plastik merah atau pun karung yang memiliki bau yang amat menyengat serta berbagai jenis lain nya.

Ia menduga, jika sampah tersebut berasal dari sampah rumah tangga dan di buang sengaja oknum tak bertanggung jawab itu.

Ia meminta, kepada pihak terkait untuk menindak tegas kelakuan nakal oknum masyarakat yang mencemarkan lingkungan secara sengaja.

” Saya minta di tindak tegas lah jangan cuma masang peraturan percuma kalau kaya gini masang plang aja” pintanya ngotot.

Ia pun mengingatkan, kepada masyarakat lain harus menjaga kesehatan terutama lingkungan jadi membuanglah sampah pada tempatnya.

Bahkan menurutnya, banyak solusi jika memang ingin betul-betul diterapkan tanpa harus mencemari lingkungan dan merugikan orang lain.

” Kaya iuran sepuluh ribu sebulan sekali, kalau gak gali lobang di belakang rumah terus kalau udah penuh di timbun lagi jangan di buang kesini saya yang kena baunya” “jelasnya kesal.

Lapor: Andi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.