Warga Minta Pihak Berwajib Adili pelaku Penebangan Kayu Hutan Di Kawasan Mata Air.

Lebak harian tempo.com.

Dengan adanya dugaan perusakan dan penebangan kayu hutan di kawasan mata air,warga setempat meminta kepada pihak terkait,terutama pemerintah desa Lebak Tipar, agar segera melakukan pematokan menertibkan batas antara mata air dengan garapan warga,bukan hanya kepada kepala desa,tetapi kepada Lingkungan Hidup (LH) bahkan kepada pihak kepolisian agar segera menindak lanjut konsekwensi perbuatanya sesuai aturan hukum yang berlaku.

Salasatu warga Lebak Tipar berinisia”DD” dengan sengaja membuat video di lokasi penebangan yang di duga kawasan mata air dungus cibeas,kampung wangun desa Lebak Tipar kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Banten.

Menurut DD bahwa kayu hutan jenis lame dalam sebutan Sunda, itu berada di kawasan mata air. Saya cek langsung ke lokasi dan jelas ada banyak Tunggul kayu hutan di area mata air, yang dengan sengaja di tebang untuk di jual,demi kepentingan pribadi. Hal ini di lakukan oleh oknum kepala sekolah madrasah ibtidaiyah kampung dayasari,tetapi beliau tinggal di kampung wangun desa Lebak Tipar.

Dengan kejadian ini , saya minta kepada pemerintah desa,agar segera membuat patok perbatasan antara mata air dengan garapan warga,guna mencegah terjadinya perusakan kawasan mata air .
Saya juga akan melaporkan kejadian ini kepada dinas lingkungan hidup(LH)dan kepada pihak kepolisian agar dapat menindak lanjuti secara aturan hukum yang berlaku.tandasnya. 27/11/2021.

“Di tempat terpisah Hasyim yang di duga pelaku Penejual kayu hutan di kawasan mata air”menjelaskan,saya sebetulnya membeli tanah tersebut lebih luas ukuran di SPPT 5750 meter,setelah pengukuran ulang dan di sertifikat kan menjadi 4100  meter. Untuk penebangan kayu,saya tidak menyaksikan,yang menunjukan pak Maman karena beliau yang mengetahui batasnya,kayunya pun di tebang oleh pembeli.
Katanya.minggu 28/11/2021.

“Maman selaku warga yang mengaku mengetahui saat pengukuran dari BPN,dan membantu pengukuran menjelaskan” bahwa kayu yang di tebang itu batas antara area mata air dengan garapan warga. Saya waktu itu ikut mengukur,itu batasnya bambu dan kayu yang di tebang ini, sebetulnya hal ini sudah menjadi budaya,kalau warga menggarap lahan suka geser sedikit demi sedikit,tapi sudah di ukur ulang dan di beri batas,supaya jangan terus bergeser lagi. Jelasnya.

Tepat di depan kantor desa Lebak Tipar, salasatu warga yang tidak mau di sebut namanya menjelaskan” dulu seingat saya itu area mata air,tapi kayu lame yang di situ malah di tebang,apakah itu memang sudah di beli oleh pak Hasyim? Kayunya hasil penebangan di beli sama mang Comot alias Suha, dia poldes Lebak Tipar,katanya di belinya senilai Rp 3000.000. terangnya.(Red)

Reporter: (Suhendi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.